++ Small Notes: كتابه بلادي ++ | |
Pagi cerah nan lembut cahayanya Di penghujung bulan penuh berkah Memaksa buliran air mata bercerita Tentang Indah Ramadhan tiada tara Semburat cahaya di sore nan indah Di sebagian hari terakhir bulan penuh makna Membasuh jiwa mengadu pada-NYA Memohon Ramadhan agar tak melangkah Ketika jiwa masih penuh dahaga Saat ruh masih penuh noda dan luka Kami berat menjalani bagian akhirnya Peluh dan airmata menemani mencari Taqwa Penantian panjang mulai membahana di Pagi Syawal nan merah merona Hantarkan kami mengawali hari penuh cita Tarbiyah Ramadhan penuh rasa Yaa Robbi, Yang Maha Bijaksana Berikan kami ilmu tentang Taqwa pasca kepergiannya Yaa Allah, Yang Maha Melihat Bukakan mata kami memandangi diri penuh dosa ***AbiZIFF,Depok29Ramadhan1429H***
Kamis, 26 Juni 2008 Kemarin malam, saya (baca: pemilik asli URL dibawah) dan beberapa teman dari Majelis budaya Rakyat (MBR) bertemu kembali. Agenda pertemuan kali ini membahas, apakah Film Sang Murabbi akan diputar terlebih dahulu di bioskop atau dalam bentuk VCD/DVD.
Setelah mempertimbangkan beberapa hal, hampir bisa dipastikan Film Sang Murabbi : Mencari spirit Yang Hilang, tidak akan diputar di bioskop terlebih dahulu.
Apa kendala utamanya? Jelas masalah dana. Karena jika Film Sang Murabbi akan diputar di bioskop membutuhkan dana yang besar.
Angkanya sedikit di bawah Satu eM (Hmmm.. saya menulis angka ini dengan menghela nafas yang cukup dalam). Jika tidak ada investor yang berani berjihad untuk dakwah, yang tidak hanya memikirkan keuntungan materi semata, mana bisa kami mendapatkan biaya untuk memblow up Film Sang Murabbi dari format Digital menjadi format Layar lebar.
Lalu, terobosan apa yang bisa dilakukan? Saya dan teman-teman bersepakat, kepada Ikhwan wal akhwat fillah rahimmakumullah yang berminat untuk menonton Film Sang Murabbi, kami menawarkan untuk membeli VCD/DVD Film Sang Murabbi secara indent atau memesan terlebih dahulu. Harga yang kami tawarkan ;
Untuk VCD sebesar Rp.30.000,- Sedangkan untuk DVD sebesar Rp. 60.000,- (Mudahan-mudahan ini tidak terlalu mahal, ya...)
Saya membayangkan, jika saja ada 40.000 keping VCD yang terjual atau 20.000 keping DVD yang terjual, Insya Allah, Film Sang Murabbi akan bisa diproses agar dapat diedarkan di bioskop. Mimpi? Bukan! Ini hanyalah doa dan harapan agar ada perluasan dakwah melalui media film. Semoga Allah memudahkan jalan dan meridhoi niat baik ini. Amin.
Lalu bagaimana cara indent atau memesannya?
Ikhwan wal akhwat fillah, jika antum/anti memang berniat untuk membeli, dapat memesannya melalui :
E-mail : majelisbudayarakyat@yahoo.com
atau via telepon/sms ke :
Muhammad Yulius (KetUm MBR) - 0812 845 4632 Ridwan (Bagian Pengembangan Iqro Islamic centre) - 0812 954 5811 Zul Ardhia (PJ Film Sang Murabbi) - 0818 74 11 80
Setelah memesan, nanti antum/anti akan kami hubungi mengenai tekhnis pembeliannya. Dan setiap pemesan akan kami tulis nama dan kota asal serta jumlah pemesanan, sehingga akan terdata berapa jumlah VCD/DVD yang telah dipesan.
Demikianlah, ikhwan wal akhwat fillah rahimmakumullah... Semoga Allah senantiasa menjaga kita untuk selalu tetap istiqomah di jalan dakwah ini... Amin... Allahuma Amin...
catatan : Banyak yang bertanya, bagaimana teknis pemesanannya? Kurang lebih begini : Silahkan antum/anti sebutkan;
Nama : Alamat lengkap : no telefon :
Setelah itu akan dicatat. Insya Allah, pekan depan antum/anti akan dikirimkan No Rek. Sang Murabbi (sekarang lg diurus di BSM dan BCA). Setelah antum/anti mentransfer dana sesuai jumlah pesanan VCD atau DVD, diharapkan antum mengirim bukti transfer ke no fax yang Insya Allah, pekan depan juga akan diinformasikan ke antum/anti... Insya Allah, akan diusahakan VCD/DVD dapat diterima pada tanggal 27 Juli, sehingga kita bisa serentak menonton Film Sang Murabbi pada tanggal yang bersamaan dengan pemutaran perdana Film Sang Murabbi di acara Pekan Tarbiyah yang diselenggarakan di Gelanggang Remaja Jakarta Selatan (GRJS) Bulungan. Tapi, bagi yang ingin mengambil sendiri pesanannya di acara Pekan Tarbiyah, tafadhol... Antum/Anti tinggal menunjukkan bukti transfer saja.
(JUST FORWARD ONLY, semoga jadi bukti atas kecintaan saya sama sang Ustadz) source:http://zul3.multiply.com/journal/item/15/FILM_SANG_MURABBI_PENAWARAN_UNTUK_PEMESANAN_VCD_ATAU_DVD
Masya ALLAH suaranya indah banget. Jadi gak kepingin dengerin musik (apalagi yg gak bermanfaat). Sayang untuk tidak didownload secara lengkap dan didengarkan setiap ada kesempatan (salah satunya saat membuka eMPe). Tafadhol CLICK link dibawah ini: Download High Quality Mp3 128 Kbps Audio Files Recitation by Sheikh Mishary Rashed Alafasy الشيخ مشاري بن راشد العفاسي
 .... 1Mbps.... berasa banget cepetnya :-) , sempat naik ke 1.25 mbps..... Alhamdulillah.... info lebih lanjut bisa dilihat di SINI (termasuk pricing)
Pelajaran berharga dari Khalifah Umar bin Khattab R.A.... Janganlah engkau melibatkan diri pada sesuatu yang tidak bermanfaat bagimu,
Hindarilah musuh-musuhmu, dan hati-hatilah dalam berteman kecuali dengan orang yang terpercaya
Tidak ada orang yang terpercaya kecuali orang yang takut kepada Allah
Janganlah engkau berteman dengan orang yang durhaka karena engkau akan belajar dari kedurhakaannya, janganlah engkau memberitahukan rahasia dirimu kepadanya,
Musyawarahkan urusan dirimu dengan orang-orang yang takut kepada Allah
(Umar Bin Khattab)
Kepergianmu terdengar tatkala Imam Sholat Isya menyampaikan Khutbahnya. Hanya sesal dan airmata serta sesak didada yang tersisa. Hari2 nan mulia penuh barokah sering berlalu tanpa ada bobot. Tilawah yang tidak khusyu dan terburu2 sering menghiasi hari2mu. Sholat Sunnah yang terlewat terkadang menjadi bagian hari2mu. Sepuluh Terakhir terlewatkan tanpa ada peningkatan dibanding tahun lalu. Curahan kasih sayang-MU yang tiada henti menjadi pelipur lara. Limpahan rahmat-Mu yang tak putus menguatkan hati ini. Semoga masih tersisa ampunan-MU yaa Robb. Jadikan hamba termasuk golongan orang2 yang Engkau beri ampunan. Jadikan hamba termasuk bagian dari orang2 yang Selalu bersedih atas kepergian Ramadhan. Jadikan hamba termasuk kelompok orang2 yang sangat merindukan kedatangan Ramadhan. Jadikan hamba pandai bersyukur atas segala anugrah nikmat-MU. Jadikan hamba selalu dalam khusyu menanti uluran kasih-MU Jadikan hamba bersujud dalam malam2 yang panjang. Hingga Ramadhan menjelang, Hingga ajal datang, Karuniakan hamba Khusnul Khatimah Yaa Robb... Aamiin Yaa Ghofurur Rohiim...
Ditengah (kabarnya/katanya) kesibukan Proyek dan menjelang pulang (sdh saatnya pulang sih, it's 5.50pm now), Coba posting sedikit ah…  Ketika ibadah Ramadhan tahun lalu kita akhiri, salah satu harapan yang merasuk kedalam jiwa kita adalah keinginan untuk bisa menjumpai dan menikmati bulan Ramadhan pada tahun berikutnya. Insya Allah, satu atau dua hari lagi harapan itu akan terpenuhi, karenanya kita berharap semoga Allah SWT benar-benar menyampaikan usia kita pada Ramadhan tahun ini. Bulan Suci Ramadhan, insya Allah akan segera menjelang. Namun, * apakah kita telah mempersiapkan kedatangan Tamu yg Mulia ini? * apakah kita telah mengatur strategi dalam memaksimalkan kesempatan yg sgt langka ini? * apakah kita telah membuat jadwal ataupun target dalam mengisinya dgn ibadah yang nilainya berlipat? * apakah kita hanya akan melewatinya dgn lapar dan dahaga? * apakah kita hanya akan melewatinya dengan bermacam ibadah namun tak berbekas selepas Ramadhan nanti? * apakah kita telah membuat Goal & Settings untuk Ramadhan kali ini? * apakah kita akan mampu untuk commit dengan Target & Jadwal2 tersebut? Dan masih banyak lagi pertanyaan yg melintas dalam pikiran krn khawatir kalaupun kita diperkenankan menemui Tamu yg Suci ini, tapi kita belum mensucikan hati dan belum meluruskan niat kita. Mungkin kita coba camkan bahwasannya Bulan Ramadhan ini adalah Bagian dari Tarbiyah dalam mendidik diri kita Dan menundukkan nafsu, ego dan arogansi kita sebagai Hamba-NYA yang pada hakikatnya diciptakan hanya untuk BerIbadah kepada-NYA. Ya, walaupun Ibadah bisa bermacam2, namun kita sering tidak seimbang dalam melakukan Ibadah. Untuk itu Kesempatan Beribadah di Bulan Ramadhan yg Mulia ini jangan disia2kan. Mungkin kita bisa coba 2 langkah awal untuk mengatur langkah2 selanjutnya: 1. Define Objectives dalam men-Tarbiyah diri kita di bulan Ramadhan kali ini. 2. Setting Jadwal Harian sejak sekarang dan buat Target serta Commit dalam menjalankannya. Mohon Maaf Lahir & Bathin, Selamat Menjalankan Ibadah Puasa dan Ibadah2 lainnya di Bulan Suci. Marhaban Yaa Ramadhan, Marhaban Syahrul Mubaraak, Marhaban Syahrut Tarbiyah… Ramadhan Kareem….. PS: Mohon Pamit untuk Mundur dari Dunia eMPe hingga Akhir Syawal, Namun jika ada teman2 eMPe bersilaturrahiim di Bulan Mulia, silahkan meninggalkan Pesan di Buku Tamu.
Walaupun mudah diucapkan, memaafkan bukanlah perbuatan yang mudah dilakukan. Ketika seseorang telah atau akan dicelakai, maka yang tertanam biasanya perasaan dendam dan ingin membalas. Perasaan seperti itu adalah wajar dalam diri orang biasa. Namun, sikap memaafkan hanya ada pada diri orang yang luar biasa. Sebenarnya meminta maaf dan memberi maaf kepada orang lain adalah pekerjaan yang sangat dianjurkan dalam agama. Semua ulama sepakat akan hal ini, sebagaimana firman Allah SWT: Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. (QS Al-A'raf: 199) Maka maafkanlah dengan cara yang baik. (QS Al-Hijr: 85) Orang-orang yang menafkahkan, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS Ali Imran: 134) Tetapi orang yang bersabar dan mema'afkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan. (QS Asy-Syura: 43) Event untuk Saling Memaafkan Secara umum saling bermaafan itu dilakukan kapan saja, tidak harus menunggu even Ramadhan atau Idul Fithri. Karena memang tidak ada hadits atau atsar yang menunjukkan ke arah sana. Namun kalau kita mau telusuri lebih jauh, mengapa sampai muncul trend demikian, salah satu analisanya adalah bahwa bulan Ramadhan itu adalah bulan pencucian dosa. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW tentang hal itu. Dari Abi Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Siapa yang menegakkan Ramadhan dengan iman dan ihtisab, maka Allah telah mengampuni dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari dan Muslim) Kalau Allah SWT sudah menjanjikan pengampunan dosa, maka tinggal memikirkan bagaimana meminta maaf kepada sesama manusia. Sebab dosa yang bersifat langsung kepada Allah SWT pasti diampuni sesuai janji Allah SWT, tapi bagaimana dengan dosa kepada sesama manusia? Jangankan orang yang menjalankan Ramadhan, bahkan mereka yang mati syahid sekalipun, kalau masih ada sangkutan dosa kepada orang lain, tetap belum bisa masuk surga. Oleh karena itu, biar bisa dipastikan semua dosa terampuni, maka selain minta ampun kepada Allah di bulan Ramadhan, juga meminta maaf kepada sesama manusia, agar bisa lebih lengkap. Demikian latar belakangnya. Marilah Kita saling MEMAAFKAN... Maka hidup akan terasa INDAH...
Allahuma Baariklana fii Rajaba wa sya'bana wa Balighna Romadhon, aamiin. Tidak lama lagi akan datang bulan ketika kita diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-NYA. Bulan dimana nafas-nafas kita menjadi tasbih, tidur menjadi ibadah, amal-amal diterima dan doa-doa diijabah. Mari memohon kepada Allah SWT dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah SWT membimbing kita dalam melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya. Marhaban Yaa Ramadhan Kareem. “Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya pembebasan dari neraka. Barangsiapa meringankan beban dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya Allah mengampuni dosanya dan memerdekakannya dari neraka.” Mohon Maaf yang sedalam2nya untuk semua rekan eMPers dimanapun berada. Mari Bersiap menyambut kedatangan Tamu nan Mulia....
Renungan dari artikel menarik dibawah ini... 1. sudahkah kita bersyukur? 2. dengan cara apa selama ini kita bersyukur? 3. cukupkah ungkapan rasa syukur kita? 4. bagaimana mingkatkan rasa syukur kita? Menjadi Pribadi Yang Bersyukur Oleh: DR. Attabiq Luthfi, MA “Mereka (Para Jin) bekerja untuk Sulaiman sesuai dengan apa yang dikehendakinya, di antaranya (membuat) gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk-periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur kepada Allah. Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur”. (Saba’:13) Ayat ini mengabadikan anugerah nikmat yang tiada terhingga kepada keluarga nabi Daud as sebagai perkenan atas permohonan mereka melalui lisan nabi Sulaiman as yang tertuang dalam surah Shaad: 35, “Ia berkata, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi”. Betapa nikmat yang begitu banyak ini menuntut sikap syukur yang totalitas yang dijabarkan dalam bentuk amal nyata sehari-hari. Tampilnya keluarga Daud sebagai teladan dalam konteks bersyukur dalam ayat ini memang sangat tepat, karena dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw bersabda: “Shalat yang paling dicintai oleh Allah adalah shalat nabi Daud; ia tidur setengah malam, kemudian bangun sepertiganya dan tidur seperenam malam. Puasa yang paling dicintai oleh Allah juga adalah puasa Daud; ia puasa sehari, kemudian ia berbuka di hari berikutnya, dan begitu seterusnya”. Bahkan dalam riwayat Ibnu Abi Hatim dari Tsabit Al-Bunani dijelaskan bagaimana nabi Daud membagi waktu shalat kepada istri, anak dan seluruh keluarganya sehingga tidak ada sedikit waktupun, baik siang maupun malam, kecuali ada salah seorang dari mereka sedang menjalankan shalat. Dalam riwayat lain yang dinyatakan oleh Al-Fudhail bin Iyadh bahwa nabi Daud pernah mengadu kepada Allah ketika ayat ini turun. Ia bertanya: “Bagaimana aku mampu bersyukur kepada Engkau, sedangkan bersyukur itupun nikmat dari Engkau? Allah berfirman, “Sekarang engkau telah bersyukur kepadaKu, karena engkau mengakui nikmat itu berasal daripada-Ku”. Keteladanan nabi Daud yang disebut sebagai objek perintah dalam ayat perintah bersyukur di atas, ternyata diabadikan juga dalam beberapa hadits yang menyebut tentang keutamaan bekerja. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah seseorang itu makan makanan lebih baik dari hasil kerja tangannya sendiri. Karena sesungguhnya nabi Daud as senantiasa makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” Bekerja yang dilakukan oleh nabi Daud tentunya bukan atas dasar tuntutan atau desakan kebutuhan hidup, karena ia seorang raja yang sudah tercukupi kebutuhannya, namun ia memilih sesuatu yang utama sebagai perwujudan rasa syukurnya yang tiada terhingga kepada Allah swt. Secara redaksional, yang menarik karena berbeda dengan ayat-ayat yang lainnya adalah bahwa perintah bersyukur dalam ayat ini tidak dengan perintah langsung “Bersyukurlah kepada Allah”, tetapi disertai dengan petunjuk Allah dalam mensyukuri-Nya, yaitu “Bekerjalah untuk bersyukur kepada Allah”. Padahal dalam beberapa ayat yang lain, perintah bersyukur itu langsung Allah sebutkan dengan redaksi fi’il Amr, seperti dalam firman Allah yang bermaksud, “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)Ku”. (Al-Baqarah: 152), juga dalam surah Az-Zumar: 66, “Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”. Redaksi seperti dalam ayat di atas menunjukkan bahwa esensi syukur ada pada perbuatan dan tindakan nyata sehari-hari. Dalam hal ini, Ibnul Qayyim merumuskan tiga faktor yang harus ada dalam konteks syukur yang sungguh-sungguh, yaitu dengan lisan dalam bentuk pengakuan dan pujian, dengan hati dalam bentuk kesaksian dan kecintaan, serta dengan seluruh anggota tubuh dalam bentuk amal perbuatan. Sehingga bentuk implementasi dari rasa syukur bisa beragam; shalat seseorang merupakan bukti syukurnya, puasa dan zakat seseorang juga bukti akan syukurnya, segala kebaikan yang dilakukan karena Allah adalah implementasi syukur. Intinya, syukur adalah takwa kepada Allah dan amal shaleh seperti yang disimpulkan oleh Muhammad bin Ka’ab Al-Quradhi. Az-Zamakhsyari memberikan penafsirannya atas petikan ayat, “Bekerjalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur kepada Allah” bahwa ayat ini memerintahkan untuk senantiasa bekerja dan mengabdi kepada Allah swt dengan semangat motifasi mensyukuri atas segala karunia nikmat-Nya. Ayat ini juga menjadi argumentasi yang kuat bahwa ibadah hendaklah dijalankan dalam rangka mensyukuri Allah swt. Makna inilah yang difahami oleh Rasulullah saw ketika Aisyah mendapati beliau senantiasa melaksanakan shalat malam tanpa henti, bahkan seakan-akan memaksa diri hingga kakinya bengkak-bengkak. Saat ditanya oleh Aisyah, “Kenapa engkau berbuat seperti ini? Bukankah Allah telah menjamin untuk mengampuni segala dosa-dosamu?” Rasulullah menjawab, “Tidakkah (jika demikian) aku menjadi hamba Allah yang bersyukur”. (HR. Al-Bukhari). Pemahaman Rasulullah saw akan perintah bersyukur yang tersebut dalam ayat ini disampaikan kepada sahabat Mu’adz bin Jabal ra dalam bentuk pesannya setiap selesai sholat, “Hai Muaz, sungguh aku sangat mencintaimu. Janganlah engkau tinggalkan setiap selesai sholat untuk membaca do’a, “Ya Allah, tolonglah aku untuk senantiasa berzikir (mengingatiMu), mensyukuri (segala nikmat)Mu, dan beribadah dengan baik”. (HR. Abu Daud dan Nasa’i). Dalam pandangan Sayid Qutb, penutup ayat di atas “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur” merupakan sebuah pernyataan akan kelalaian hamba Allah swt dalam mensyukuri nikmat-Nya, meskipun mereka berusaha dengan semaksimal mungkin, tetapi tetap saja mereka tidak akan mampu menandingi nikmat Allah swt yang dikaruniakan terhadap mereka yang tidak terbilang. Sehingga sangat ironis dan merupakan peringatan bagi mereka yang tidak mensyukurinya sama sekali. Dalam hal ini, Umar bin Khattab ra pernah mendengar seseorang berdo’a, “Ya Allah, jadikanlah aku termasuk golongan yang sedikit”. Mendengar itu, Umar terkejut dan bertanya, “Kenapa engkau berdoa demikian?” Sahabat itu menjawab, “Karena saya mendengar Allah berfirman, “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur”, makanya aku memohon agar aku termasuk yang sedikit tersebut. Ciri lain seorang hamba yang bersyukur secara korelatif dapat ditemukan dalam ayat setelahnya bahwa ia senantiasa memandang segala jenis nikmat yang terbentang di alam semesta ini sebagai bahan perenungan akan kekuasaan Allah swt yang tidak terhingga, sehingga hal ini akan menambah rasa syukurnya kepada Dzat Yang Maha Kuasa. Allah swt berfirman diantaranya, “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi setiap orang yang sabar lagi bersyukur”. (Saba’:19). Ayat yang senada dengan redaksi yang sama diulang pada tiga tempat, yaitu surah Ibrahim: 5, Luqman: 31, dan surah Asy-Syura’: 33. Memang komitmen dengan akhlaqul Qur’an, di antaranya bersyukur merupakan satu tuntutan sekaligus kebutuhan di tengah banyaknya cobaan yang menerpa bangsa ini dalam beragam bentuknya. Jika segala karunia Allah swt yang terbentang luas dimanfaatkan dengan baik untuk kebaikan bersama dengan senantiasa mengacu kepada aturan Allah swt, Sang Pemilik Tunggal, maka tidak mustahil, Allah swt akan menurunkan rahmat dan kebaikanNya untuk bangsa ini dan menjauhkannya dari malapetaka, karena demikianlah balasan yang tertinggi yang disediakan oleh Allah swt bagi komunitas dan umat yang senantiasa mampu mensyukuri segala bentuk nikmat Allah swt: “Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui”. (An-Nisa’:147) Allahu A’lam.
What is Knowledge? - Each and everyones is engaged in solving challenges, small or big, every single day at work. What we all gain by solving practical problems, added with the persons own values and beliefs constitute our "knowledge".
- We might call knowledge by different name such as "expertise", "solutions", "workarounds", "tricks", "tips", "good practices". It is always something you can DO things with, it can be put to work. Sometimes knowledge comes out in a discussion, sometimes it is coded into a written document.
- We are in most cases not aware of our knowledge because knowledge tends to come out only when needed, often in the environment where the knowledge was gained at the first place. We simply know when we need to know.
Where is Knowledge? - At any given time it is likely that there are many similar projects on-going somewhere on the globe.
- The chances are that someone, somewhere inside our organisation has already faced the same problem you have and possibly solved it.
- By being active YOU can try to find who has done that and gain knowledge that can help you. Nobody else can do it for you.
- As knowledge sharing is all voluntary currently we all need to give and take.
- So, be part of the community, share what you have and others will share with you.
Assalamu 'alaikum Wr Wb. Cobain posting via email nih. Feature menarik juga spt pada saat blogspot. Any comments are welcome and awaited.
Kemurnian copy-paste untuk artikel yang sangat bagus ini sayang untuk dilewatkan dan tidak dishare ke temans semua. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dan diberikan kemudahan dalam mengamalkannya, Aamiin Yaa Robbal 'alamiin.... Tips-Tips dari Rasulullah dalam Berinteraksi dengan Sesama Muslim Begitu banyak buku-buku populer manajemen dan pengembangan diri, sebutlah buku populernya Dale Carnegie, How to Win Friends & Influence People atau John C. Maxwell, 25 Ways To Win With People, atau Stephen R. Covey dengan The 7 Habits of Highly Effective People atau berbagai terbitan Gramedia lainnya seperti "Cara Praktis Meningkatkan Ketrampilan Komunikasi Anda" dan masih banyak lagi judul-judul sejenis.
Bagaimana cara ‘hidup lebih baik’ dengan membina hubungan yang baik dengan orang lain di sekitarnya, itu adalah fokus bahasannya. Bagaimana cara berinteraksi dengan orang lain, mengasah kepekaan emosional, bertoleransi, selalu bersikap positif, tips-tips cara mendapat dan mempengaruhi teman, cara berkomunikasi yang baik, dengan think win-win, memahami lebih dahulu, maupun bersinergi.
Menariknya, Islam sebagai agama yang sempurna, sudah mengajarkan semua itu, dengan Rasulullah saw sebagai model utamanya. Innama bu'itstu liutammima makaarimal akhlaq, sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq, demikian sabda Rasulullah saw. Akhlaq dalam seluruh bidang kehidupan, bagaimana berinteraksi dengan orang tua, dengan sanak keluarga, dengan tetangga, dan seterusnya.
Nah, berikut ini adalah tips-tips dari Rasulullah saw bagaimana cara berinteraksi dengan sesama muslim.
Pertama, mencintai muslim lain sebagaimana mencintai dirinya sendiri. ”Tidak beriman salah seorang di antara kamu sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari-Muslim)
Kedua, menyukai apa yang disukai muslim lain sebagaimana dirinya menyukai apa yang dia sukai, dan membenci apa yang dibenci muslim lain sebagaimana dirinya membenci apa yang dia benci. “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang dengan sesama mereka seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan baik (sakit) demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Bukhari-Muslim)
Ketiga, tidak menyakiti muslim lain dengan perbuatan atau perkataan. ”Seorang muslim adalah orang yang muslim lainnya selamat dari gangguan lidah dan tangannya.” (HR. Bukhari-Muslim)
Keempat, bersikap tawadhu kepada setiap muslim dan tidak sombong kepadanya. ”Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku hendaklah kamu tawadhu sehingga tidak ada orang yang membanggakan diri kepada yang lain.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Maajah)
Kelima, tidak menyampaikan berita atau gunjingan kepada sebagian yang lain tentang apa yang didengarnya dari sebagian yang lain. ”Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.” (HR. Bukhari-Muslim)
Keenam, kalau marah, maka tidak boleh mengindarinya lebih dari tiga hari. ”Tidak boleh seorang muslim menghindari saudaranya lebih dari tiga hari, keduanya saling bertemu lalu saling berpaling. Sebaik-baik orang di antara keduanya adalah orang yang memulai mengucapkan salam.” (HR. Bukhari-Muslim)
Ketujuh, melakukan kebaikan kepada setiap muslim semampunya dengan tidak membedakan antara keluarga dan yang bukan keluarga. ”Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah saw tidak pernah berbicara dengan seseorang melainkan beliau menghadapkan wajahnya ke wajah teman bicaranya lalu Rasulullah saw tidak akan berpaling dari wajah seseorang sebelum ia selesai berbicara.” (HR. ath-Thabrani)
Kedelapan, tidak masuk ke rumah muslim lain tanpa meminta izin, jika sampai tiga kali tidak diizinkan maka harus kembali. ”Meminta izin itu tiga kali. Yang pertama untuk menarik perhatian tuan rumah, kedua memperbaiki, dan ketiga agar memberi izin atau menolak.” (HR. Bukhari-Muslim)
Kesembilan, bersikap sopan kepada setiap muslim dengan akhlaq yang baik dan berinteraksi dengan mereka sesuai dengan keadaannya. ”Hindarilah api neraka sekalipun dengan separoh korma. Lalu siapa yang tidak memilikinya, maka dengan perkataan yang baik.” (HR. Bukhari-Muslim)
Kesepuluh, menghormati orang tua dan menyayangi anak-anak. ”Tidak termasuk dalam golongan kami orang yang tidak menghormati orang tua dan tidak menyayangi anak kecil.” (HR. Bukhari dan Abu Dawud)
Kesebelas, selalu memberikan kegembiraan, bermuka manis, dan bersikap lembut kepada semua muslim. ”Tahukah kamu kepada siapa api neraka diharamkan?” Para sahabat menjawab, ”Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Lalu Nabi saw bersabda, ”Kepada orang yang lemah lembut, yang selalu memudahkan, dan selalu dekat (akrab)” (HR. Tirmidzi)
Kedua belas, janganlah berjanji kecuali bermaksud menepatinya. ”Tiga hal ada pada diri orang munafik, apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mengingkari, dan apabila diberi amanah ia berkhianat.” (HR. Bukhari-Muslim)
Ketiga belas, bersikap adil dan tidak melakukan sesuatu kepada muslim lain kecuali apa yang ia sukai untuk diperlakukan kepada dirinya. ”Siapa yang ingin dijauhkan dari api neraka dan masuk surga maka hendaklah ia mati dalam keadaan bersaksi Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, dan hendaklah ia memperlakukan orang lain dengan sesuatu yang disukainya jika dilakukan pada dirinya.” (HR. Muslim)
Keempat belas, menghormati muslim lain yang penampilan dan pakaiannya menunjukkan kedudukannya sehingga dirinya bisa menempatkannya sesuai dengan kedudukannya. ”Apabila orang dimuliakan suatu kaum datang kepada kamu, maka muliakanlah ia.” (HR. al-Hakim)
Kelima belas, mendamaikan sesama muslim yang bersengketa jika menemukan jalan (penyelesaian) ke arah itu. ”Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara kamu karena sesungguhnya Allah akan memperbaiki hubungan di antara orang-orang beriman di hari kiamat.” (HR. al-Hakim)
Keenam belas, menutupi aib setiap muslim. ”Siapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)
Ketujuh belas, menghindari tempat-tempat yang bisa mendatangkan tuduhan demi untuk menjaga hati orang lain agar tidak berburuk sangka dan juga untuk menjaga lidah mereka agar tidak menggunjing. Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra bahwasanya Rasulullah saw berbicara dengan salah seorang istrinya kemudian ada laki-laki lewat lalu dipanggil oleh Nabi saw seraya berkata, ”Ya Fulan, ini adalah istriku Shafiyyah.”
Kedelapan belas, memintakan bantuan bagi setiap muslim yang membutuhkan pada orang yang memiliki kedudukan dan berusaha memenuhi kebutuhan saudaranya itu sesuai kemampuannya. ”Sesungguhnya aku diberi dan diminta. Sering dimintakan kepadaku kebutuhan-kebutuhan sedangkan kamu ada di sisiku, maka ikutlah memberi bantuan agar kamu diberi pahala dan Allah swt memutuskan apa yang dicintai-Nya melalui kedua tangan Nabi-Nya.” (HR. Bukhari-Muslim)
Kesembilan belas, mengucapkan salam terlebih dahulu sebelum berkata kepada muslim lain dan menjabat tangan ketika memberi salam itu. ”Jika salah seorang di antara kamu bertemu dengan saudaranya maka ucapkanlah, ’Assalamu’alaikum warahmatullah.’” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan an-Nasa’i) ”Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabatan tangan melainkan keduanya akan diampunkan (dosanya) sebelum mereka berpisah.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Kedua puluh, menjaga kehormatan jiwa dan harta saudaranya sesama muslim dari kezhaliman orang lain apabila dirinya mampu membela dan menolong serta mampu memperjuangkannya sebab itu merupakan kewajiban baginya. ”Barangsiapa yang membela kehormatan saudaranya maka ia akan terlindung dari api neraka.” (HR. Tirmidzi)
Kedua puluh satu, menjawab ucapan muslim lain yang bersin. ”Seorang muslim yang bersin dijawab jika ia bersin tiga kali dan jika (lebih dari tiga kali) maka itu adalah penyakit flu.” (HR. Abu Dawud)
Kedua puluh dua, memberi nasihat kepada setiap muslim dan bersungguh-sungguh ingin selalu memberikan kegembiraan ke dalam hati setiap muslim itu. ”Sesungguhnya salah seorang di antara kamu adalah cermin bagi saudaranya, jika ia melihat sesuatu (pada saudaranya) maka hendaklah ia membersihkannya.” (Hr. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Kedua puluh tiga, menjenguk muslim yang sakit. ”Siapa yang menjenguk orang sakit berarti ia duduk di taman-taman surga, sampai-sampai jika ia hendak berdiri, maka ditugaskan tujuh puluh ribu malaikat yang mendoakannya sampai malam hari.” (HR. al-Hakim)
Kedua puluh empat, mengantar (mengiringi) jenazah muslim yang meninggal. ”Barangsiapa yang mengantar jenazah maka akan mendapatkan pahala satu qirath. Jika ia berdiri sampai jenazah itu dikubur maka ia mendapatkan pahala dua qirath.” (HR. Bukhari-Muslim) ”Satu qirath seperti (berat/besarnya) bukit Uhud.” (HR. Muslim)
Kedua puluh lima, menziarahi kuburan muslim. ”Aku belum pernah melihat pemandangan yang lebih menakutkan dari kuburan.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Maajah, al-Hakim)
Maraji': Tazkiyatun Nafs, Sa’id Hawwa
Yaa Akhi/Ukhti Fillah, sudah siapkah kita? sudah cukupkah perbekalan kita? Dan kematian bukanlah sesuatu yang harus kita benci, karena kematian adalah bagaikan jalan pertemuan dengan Allah, dan barang siapa yang membenci pertemuan dengan-Nya, maka Allah pun membenci pertemuan dengannya [Bukhari dan Muslim]. Kita harus selalu siap saat kematian itu menyergap kita, dan selalu mempersiapkan diri ini dalam keadaan yang diridhoi-Nya. Menurut Said Hawwa dalam bukunya Mensucikan Jiwa, cara untuk mengingat kematian adalah dengan mengosongkan hati ini dari segala sesuatu kecuali dzikrul maut, dan caranya adalah dengan mengingat saudara-saudaranya yang telah mendahului. Bukankah orang yang paling berbahagia adalah orang yang dapat mengambil pelajaran dari orang lain? Bahkan Umar bin Abdul Aziz pernah berkata, "Tidakkah kalian melihat bahwa kalian setiap hari menyiapkan orang yang pergi dan pulang kepada Allah, kalian meletakkannya di atas tanah dan membantalkan tanah dengan meninggalkan para kekasih dan terputus segala upaya." Dengan terus menerus menghadirkan pikiran-pikiran tersebut, mengunjungi orang-orang yang sakit dan menghadiri upacara penguburan, itu merupakan salah satu jalan dzikrul maut. Bahkan, Ar-Rabi' bin Kha Khaitsam menggali kuburan di rumahnya dan setiap hari ia tidur di dalamnya beberapa kali untuk senantiasa mengingat kematian. Bahkan ia berkata, "Seandainya mengingat kematian berpisah dari hatiku sesaat saja, niscaya hatiku rusak." Emang sih dunia ini diciptakan indah dalam pandangan mata. Dihiasi taman-taman bunga yang indah, anak-anak sebagai penghibur diri, istri yang cantik, suami yang ganteng, makanan yang beraneka rupa, harta, tahta, dll. Namun semua itu pada akhirnya juga akan kita tinggalkan, tak ada yang terbawa ke alam kubur kecuali hanya kain kafan untuk membungkus diri ini. Kematian memang mestinya tak perlu menjadi sesuatu yang ditakuti, karena niscaya ia akan datang menghampiri pada waktunya nanti. Dan sesungguhnya yang terpenting adalah mempersiapkan diri ini hingga kelak kematian itu menjadi indah. Isy kariman aw mut syahidan, hidup mulia atau mati syahid, demikian pesan Sayyid Qutb! Selamat berjuang untuk hidup secara mulia di dunia ini ya akhi wa ukhti fillah, mulia dlm pandangan manusia terlebih lagi mulia dlm pandangan Allah SWT, hingga kematian syahid menemui kita. Wallahu a'lam bishshawab. Tambahan dari KotaSantri.com (yg juga sangat bagus untuk kita ambil pelajaran didalamnya).... Dzikrul Maut Penulis : Budi Nugroho
KotaSantri.com : Ketika maut menjemput, tak ada lagi kebanggaan itu. Tak ada lagi yang bisa menolong. Dimana kesombongan itu? Dimana keangkuhan itu? Dimana tatapan mata dengki kita yang rajin kita umbar setiap hari? Dimana hati-hati yang kerap menumpuk kotoran ini?
Ketika kematian datang, ajal mencabut nyawa, maka jangan lagi bicara kekuasaan, kekayaan, kemegahan, dan lain sebagainya. Karena hal tersebut tak akan menolong sedikit pun. Kita boleh ujub dengan keperkasaan kita semasa hidup, tapi sekali-kali itu akan lenyap dan sirna kala malaikat maut menarik ruh dari jasadnya.
Wahai diri yang setiap hari menjejali kepala ini dengan dengki, sombong, prasangka. Akankah kau bawa mati semua itu? Akankah menyelamatkanmu dari siksa kuburmu? Akankah membuatmu mulia di pengadilan agung di Padang Mahsyar kelak?
Demi Allah. Kematian pasti datang. Hitunglah hari demi hari yang kita jalani. Rasakan kehadiran malaikut pencabut nyawa itu. Izrail selalui mengintai kita, menunggu titah Allah mencabut nyawa ini ketika sudah waktunya. Dan ketika telah datang Kiamat Sughra itu, sang jasad yang angkuh dan merasa diri hebat ini tak lebih dari batangan kayu kropos yang hina di hadapan Allah.
Iblis terusir dari surga karena kesombongannya...
Sombong, angkuh, congkak. Menganggap diri lebih mulia dari orang lain. Menganggap orang lain lebih hina. Menyepelekan orang lain. Petantang-petenteng. Merasa otaknya paling cerdas, merasa badannya paling kuat, merasa uangnya paling banyak, merasa kelebihannya adalah kehebatan yang tidak memiliki korelasi apapun dengan Allah.
Padahal ketika Allah menyambanginya dengan kesakitan, maka tergoleklah badan congkak itu. Apalagi Allah mengirim sakaratul maut. Jasad gagah di hadapan manusia, tapi hina di hadapan Allah, tak lebih dari batangan kayu kropos yang tak lagi bernilai.
Manusia mati. Dimana kehebatan itu? Dimana kedigdayaan itu? Dimana keunggulan itu? Dimana congkak itu? Dimana kedengkian itu? Dimana ujub itu? Dimana ghurur keterpedayaan itu? Dimana wajah diri yang sombong itu?
Kubur menjadi tempat persinggahannya. Lubang kecil, pengab, penuh cacing-cacing tanah, jasad telanjang hina. Jangan kau bangga-banggakan lagi kecantikan itu. Jangan kaubangga-banggakan lagi kegagahanmu itu. Jangan lagi sebut kesaktianmu itu. Jangan kau sombongkan kehebatanmu semasa di dunia. Engkau sekarang tak lebih dari cacing-cacing dan para binatang tanah yang memakan tubuhmu itu sekarang.
Nikmatilah alam kuburmu. Ingati kembali masa di duniamu. Niscaya engkau baru tahu bahwa kebanggaan dan kecongkakan yang selama ini rajin kau tanam di dalam batok kepalamu hanya mendatangkan kehinaan di sebuah ruang pengab yang penuh dengan cacing-cacing tanah yang segera mencincang jasad kroposmu itu.
Assalamu'alaikum Wr Wb, Sebelum segalanya terlambat, mari kita persiapkan diri menyambut Bulan Suci Ramadhan.... Hudzaifah.org - Memperlihatkan amal shalih di hadapan manusia (riya') adalah syirik ashghor (syirik kecil). Dampaknya, amal shalih yang didasari dan ditujukan untuk riya'i ini, tidak akan diterima Allah swt.
Repotnya, pada diri dan jiwa manusia, ada kecenderungan untuk diperhatikan, dilihat, dan ditonjolkan kepada orang lain, sebagaimana dikatakan oleh Imam Al Ghazali rahimahuLlah.
Pertanyaannya, adakah Allah swt menuntut kita untuk melawan sesuatu yang sebenarnya ada di dalam jiwa kita? Atau lebih konkritnya: mungkinkah Allah swt melarang kita dari perbuatan riya', sementara kecenderungan itu ada dan include dengan ciptaan manusia?
Allah swt -Yang Maha Pencipta (Al Khaliq)- adalah juga Yang Maha Mengetahui (Al 'Aliim) dan juga Maha Bijaksana (Al Hakiim).
Pada saat Dia menciptakan manusia dengan include di dalamnya kecenderungan untuk dilihat kerja-kerjanya oleh orang lain, dikagumi dan diceritakan, Dia juga memberikan jalan keluar yang menjadi tempat tumpahan perasaan itu (perasaan senang dilihat dan didengar ceritanya oleh orang lain).
Demi terpenuhinya perasaan tersebut, Allah swt mengajarkan beberapa aqidah kepada kita, diantaranya:
1. Kita diajari, agar senantiasa merasa bahwa setiap ucapan yang meluncur dari mulut kita (QS Qaf [50]: 18), segala gerak gerik kita, senantiasa dicatat oleh malaikat-malaikat yang ditugaskan Allah swt untuk hal ini (QS Al Infithar [82]: 11). Karenanya, pertunjukkanlah kepada para malaikat itu hal-hal yang baik-baik, agar saat malaikat itu melaporkanya kepada Allah, Dia menjadi ridha kepada kita.
2. Kita diajari, bahwa pada setiap harinya, Allah swt menurunkan malaikat-malaikat yang bertugas di siang hari, dan malaikat-malaikat yang bertugas di malam hari. Dan yang pernah bertugas, tidak akan turun lagi. Dua shiff malaikat ini bertemu pada waktu Ashar dan Shubuh. Tugas mereka adalah melaporkan hamba-hamba Allah dari kalangan manusia kepada-Nya (meskipun Allah swt telah mengetahui semuanya). Bila manusia-manusia itu didapatinya berada di masjid sedang melakukan shalat berjama'ah, maka saat para malaikat itu ditanya Allah: "Bagaimana keadaan hamba-hamba-Ku saat engkau datang, dan saat engkau tinggalkan?". Para malaikat itu akan menjawab: "Waktu kami datang, mereka sedang dalam keadaan shalat, dan waktu kami tinggalkan, merekapun sedang dalam keadaan shalat. Ketahuilah bahwa para malaikat itu hanya mendatangi masjid (termasuk mushalla tempat berjama'ah lima waktu), tidak tempat lainnya. Oleh karena ini, berusahalah agar setiap pelaksanaan waktu shalat berjama'ah, kita melakukannya di masjid, khususnya, jama'ah Ashar dan jama'ah Shubuh. Sebab, pada dua waktu ini, dua shiff malaikat sedang berkumpul, yang bertugas malam baru turun di waktu Ashar dan yang bertugas siang baru akan kembali kepada Allah, begitu juga sebaliknya. 1
3. Pada setiap Jum'at, Allah swt juga menugaskan malaikat-malaikat-Nya untuk "mengabsen" atau "mendata" siapa-siapa yang datang di masjid untuk shalat Jum'at. Mereka semua berjaga di setiap pintu masjid. Siapa saja yang datang pada saat pertama, ia akan dicatat sebagai orang yang berkurban dengan unta. Yang datang pada saat kedua akan dicatat sebagai orang yang berkurban dengan sapi. Yang datang pada saat ketiga, akan dicatat sebagai seseorang yang berkurban dengan kambing. Yang datang pada saat kelima akan dicatat sebagai orang yang berkurban dengan ayam. Dan yang datang pada saat kelima akan dicatat sebagai seseorang yang berkurban dengan telur. Lalu, setelah khatib naik mimbar, para malaikat itu memasuki masjid dan mendengarkan khutbah sang khatib. Karenanya, siapa saja yang datang pada saat khatib telah naik mimbar, ia tidak akan tercatat oleh para malaikat yang bertugas itu. 2
4. Berkenaan dengan Ramadhan, kita diperintahkan untuk memperlihatkan kepada Allah swt segala hal yang baik, dan kita akan dibangga-banggakan Allah swt di hadapan para malaikat-Nya. Karenanya, kita harus berkompetisi untuk show di hadapan Allah swt dengan amal-amal shalih kita. Rasulullah saw bersabda:
Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan keberkahan, Allah swt memberikan kecukupan kepada kalian pada bulan ini, Dia menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan do'a, Allah swt melihat kompetisi kalian, dan membanggakan kalian di hadapan para malaikat-Nya, karenanya, tunjukkanlah kepada Allah hal-hal yang terbaik dari kalian, sebab, orang yang sengsara adalah yang terhalang dari rahmat Allah swt. (Al Haitsami berkata: "diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam al mu'jam al kabiir, dan di dalamnya ada Muhammad bin Abi Qais, dan saya tidak menemukan siapapun yang menjelaskan biografinya).
Saudara-saudaraku yang dimulyakan Allah ?
Target dari puasa adalah bertaqwa, dan bertaqwa adalah sebuah kondisi hati yang menjadikan kita sangat berhati-hati dalam menginjakkan kaki, agar tidak menginjak duri (demikian Ubay bin Ka'ab mengilustrasikannnya). Ketaqwaan seperti ini akan tumbuh dengan baik pada diri kita, manakala kita senantiasa merasakan para malaikat petugas-petugas Allah swt, dan merasakan adanya pengawasan (muroqobah) dari-Nya.
Bulan Ramadhan adalah bulan penuh kebaikan, bulan berkah, bulan tanafus (kompetisi) dalam beramal shalih. Banyak peluang yang terbuka di hadapan kita, tinggal, bagaimana kita mendayagunakan peluang-peluang itu dengan sebaik-baiknya.
Dan tinggal satu hal lagi, dan ini yang paling penting, kita harus senantiasa memohon kepada Allah swt agar Dia senantiasa melimpahkan taufiq, hidayah dan 'inayah-Nya kepada kita, sehingga kita mampu mengisi Ramadhan tahun ini dengan yang terbaik daripada tahun-tahun sebelumnya, amiiin.
Ya Allah, tolonglah saya untuk mengingat-Mu, mensyukuri-Mu dan baik dalam beribadah kepada-Mu, amiiin.
by : Ust. Musyaffa, Taujihat Usbu'iyyah 121299
Ibnul Qayyim Al-Jauziyah menjelaskan beberapa jenis syahwat yang kemudian akan menjadi akar dari semua bentuk dosa manusia. Adapaun jenis syahwat itu adalah sbb: - Syahwat kekuasaan
- Syahwat Kesetanan
- Syahwat Binatang Buas
- Syahwat Binatang Ternak
1. Syahwat Kekuasaan, Berarti bahwa dorongan berkuasa dalam diri seseorang begitu kuat sampai tingkat dimana ia mulai menyerap sebagian dari sifat yang hanya layak dimiliki oleh Allah SWT. Hal ini dimulai dari yang terkecil -- senang dikagumi (sum'ah), senang disanjung didepannya (riya'), dan merasa puas diri (ghurur), sampai pada hal yang besar -- sombong, angkuh, jabarut, mengintimidasi, dan zalim. Syahwat inilah yang kemudian mendorong manusia sampai pada tingkat yang lebih jauh lagi, yaitu syirik. Inilah dosa yang membuat fir'aun terlaknat. 2. Syahwat Kesetanan, Berarti bahwa ada doronganyang kuat dalam diri seseorang untuk menyerupai setan dalam bentuk perilaku dasarnya. Misalnya, memiliki sifat benci, dengki, dan pendendam, gemar menipu, membuat ulah & makar, menyebarkan gosip, memfitnah, meyesatkan orang lain, dan semacamnya. Syahwat ini biasanya mempertemukan antara kecerdasan di satu sisi, dengan dorongan setan di sisi lain. Karena itu, pelakunya cenderung licik dan culas dalam pergaulan serta berwajah ganda. 3. Syahwat Binatang Buas, Berasal dari nafsu amarah dan angkara murka, seperti api yang cenderung membakar dan membumihanguskan. Jika syahwat angkara murka bertemu dengan kekuatan fisik yang mendukung, maka lahirlah berbagai macam perilaku buruk, seperti permusuhan, debat, penjajahan, pembunuhan, tirani, penodongan, dan perkelahian. 4. Syahwat Binatang Ternak, Berasal dari naluri binatang dalam diri manusia dan mendorongnya untuk memenuhi kebutuhan perut dan kemaluannya secara berlebihan. Penyakit syahwat ini mendorong manusia menjadi hedonis, permisif, dan berpikir jangka pendek. Dari syahwat perut lahirlah sifat-sifat serakah, rakus, memakan harta anak yatim, pelit, suka mencuri, korupsi, pengecut, penakut, dan semacamnya. Adapun dari syahwat kemaluan lahirlah perzinahan. Ibnul Qayyim juga menjelaskan bahwa sebagian besar manusia terjebak dalam penyakit syahwat binatang ternak. Sebab, pemenuhannya tidak membutuhkan banyak kecerdasan, atau pun kekuatan fisik, atau wilayah kekuasaan. Sementara itu syahwat binatang buas biasanya menimpa orang-orang yang kuat secara fisik, namun tidak memiliki rasa kasih, kemurahan hati, dan naluri sosial yang baik. Sedangkan syahwat kesetanan biasanya menimpa orang-orang cerdas, namun tidak memiliki hati yang bersih dan niat yang baik. Adapun yang terakhir, yaitu syahwat kekuasaan, biasanya menimpa orang-orang yang memiliki banyak hal, seperti harta yang melimpah, kekuasaan yang luas, dukungan pasukan militer yang kuat, rakyat yang miskin, bodoh, lemah dan tidak berdaya, serta teknologi yang tinggi dan canggih. Adakah kita mempunyai kecenderungan dgn salah satu syahwat diatas? Mari kita introspeksi diri setiap saat, setiap detik dan setiap tarikan nafas......
Push to Talk over Cellular (PoC) is a walkie-talkie type service that provided over a cellular phone network. This implementation of push to talk (PTT) over a cellular system typically supports telephony services. There are proprietary implementations and the Open Mobile Alliance defines standards for PoC. Push to talk calls are half duplex communications — while one person speaks, the other(s) listen. A Push to talk connection is typically connected virtually instantaneously. A single press reaches an active talk group. Users no longer need to make several calls to coordinate with a group. About Nokia Push to Talk (PTT/PoC): Push to Talk over Cellular (PoC) introduces a new real-time direct one-to-one and one-to-many voice communication service in the cellular network. The principle of communication behind the service is simple - just push to talk. Thanks to the 'always-on'1) connection, calls can be started to both individuals and talk groups with just a push of a key. The call connection is almost instantaneous and the receiver doesn't have to answer the call.
Push to Talk service users are typically engaged in some other activity than a telephone call, and they listen to the group traffic during their activity. A user can be contacted by the name, or he may occasionally want to say something to the group. Half-duplex traffic is ideal for such use cases. This simple, real-time direct communication serves the diverse needs of both business users and private consumers ranging from controlled team management to spontaneous sharing of experiences. Among the many benefits of this solution over conventional two-way radio systems are the attractive cellular phones and the simple and fast creation of talk groups and group calls.
Push to Talk service is a genuine differentiated voice service, because it is not a substitute of any existing cellular services. It gives operators an opportunity to develop their voice service offering without changing conventional voice services.
The Push to Talk service is an integral part of the IP Multimedia communication portfolio envisioned by Nokia, and a part of the service offering in IP Multimedia Subsystem (IMS). It is based on half-duplex Voice over IP (VoIP) technology over mobile networks. Thanks to the IP technology, the Push to Talk service uses cellular access and radio resources more efficiently than circuit-switched cellular services, reserving network resources only for the duration of talk spurts instead of for an entire call session.
Nokia believes that Push to Talk service must be based on open standards to enable multivendor environment and interoperability between different terminals and services. Nokia has been the main contributor for the coming OMA (Open Mobile Alliance) PoC standard, which is now under IOP (Interoperability) testing. This solution offers terminal manufacturers an opportunity to implement the Push to Talk facility across mobile phone categories, thus giving end-users more freedom to choose the products that best meet their communication needs.
1) "Always-on" means that a subscriber has typically direct access to the service after the subscription to it without additional measures (such as dial-up) provided that cellular network supports the service, is available and is not overloaded. --- Di Indonesia, operator mana nih yg mau jual service ini?
Assalamu'alaikum Wr Wb, Tips buat teman-teman yang mungkin pernah difitnah, cobalah untuk melakukan sebagian/seluruh tips2 berikut: 1. Bersabar, dan tambahkanlah kesabaran itu. 2. Selalu Percaya bahwa Allah Maha Tahu. 3. Berpikir Positif. Biarlah orang lain benci pada kita karena fitnah itu. Yang penting Allah Maha Tahu dan Dia Tahu siapa kita sebenarnya. 4. Tetap menunjukkan akhlak mulia pada siapa saja. 5. Terus menerus mengintrospeksi diri. 6. Tidak perlu banyak ambil pusing. Apa yang disebutkan seseorang ttg kita dan sangat tidak benar, biarlah orang tsb merasa puas dengan hasil karyanya sendiri. 7. Pembunuhan karakter tidak akan berhasil jika kita berusaha melakukan sebagian besar langkah2 diatas. 8.(silahkan ditambahkan sendiri, dan beri nomor tips) Insya Allah, masalah2 yang teman-teman hadapi akan segera teratasi.
Unix/Linux timestamps are the number of seconds since midnight, January 1, 1970 GMT (referred to as the Epoch). They are much easier to programmatically manipulate than date/time strings. For example, if you need to refer to 10 days from today, it is easier to add (10 days * 24 hours * 60 minutes * 60 seconds) seconds to the current timestamp than it is to program all that "30 days hath September, April, June and November" horsepuckey.
After re-creating this simple script for several projects, it occurred to me - why not publish this somewhere so I can reuse it? So here it is.
Leave the fields empty for the current time or enter a timestamp or date string below, then click a button. Click HERE to Try ....
Ciri2 orang sombong/takabur diantaranya: 1. Mendustakan Kebenaran Tidak suka kpd nasihat/kebenaran, tidak suka mendengar ilmu ttg agama. Tingkatannya pun berbeda, ada yg ibadah tetapi dia tdk mau dengar nasihat. Dia sering merasa dirinya yg paling benar dan ketika berdebat pakai argumen hanya nafsunya saja serta tidak mau bergaul dgn org2 yg dekat agama. Tidak semua orang sombong terlihat arogan atau petantang-petenteng. Mereka Tidak mau dikoreksi, tidak mau dikiritik, jika bicara mau menang sendiri. Mereka mungkin sholat, zakat, umroh ataupun haji, tapi - Jika bicara cenderung mau menang sendiri. - Jika diskusi/ngobrol, hobinya memotong pembicaraan orang lain. - Jika diberi saran, meremehkan saran orang lain. - Jika dikritik, tidak mau menerima bahkan balik menyerang. - Selalu ingin menunjukkan dialah yg paling benar, yg paling tahu, dan yg paling penting. 2. Menganggap rendah org lain Melihat orang lain lebih rendah daripada dirinya. Dari cara menyuruh,cara duduk dan caranya bersikap maka akan terlihat ekspresinya. Dia akan menununjukan dlm perilakunya bahwa dirinya lebih tinggi dari orang lain. Penyakit ini bisa mengenai orang kaya atau miskin, berpangkat ataupun tidak. Tauladan kita adalah Rasul SAW yang sangat Tawadhu/Rendah Hati. Setiap berjumpa dengan orang, maka orang tersebut merasa dia ada dalam hati Rasul SAW. karena apapun yg dilakukan dengan ketulusan, sehingga org merasa dihargai. Sebaiknya ketika kita melihat org lain, kita harus berani mencari sisi2 positif dari org lain krn siapa tahu jelek menurut kita padahal dalam pandangan ALLAH org tersebut memiliki derajat. Ilmunya sedikit tapi banyak amal lebih baik daripada banyak ilmu namun tidak mengamalkan. Orang yg banyak dosa dan taubat nasuha lebih baik daripada org yg banyak amal namun taubatnya tidak sungguh2. Kita kadang2 pelit untuk membuat org lain merasa penting, hanya diri kita saja yg ingin dianggap paling penting. Maka berhati2lah dgn penyakit yg satu ini. Semoga kita terhindar dari sifat Sombong, Dengki dan Riya, aamiin. Tentang Dengki dan Riya bisa kita bahas lain waktu, Insya ALLAH.
| |